tetangga itu dimasukkan box kaca, dan dibiarkan menghirup O2 hasil taman-taman nasionalnya saja, aku yakin tak lama mereka akan mati lemas. Justru karena saking besarnya produksi O2, sangat sulit menjinakkan api yg terlanjur membakar hutan itu. Tetap, di sini aku tidak membenarkan pembakaran hutan. Apapun alasannya, aku menentang pembakaran hutan itu. Seharusnya, menyadari pentingnya hutan bagi tubuh dunia, kita harus menjaganya, tidak menabangi pohon-pohonnya. Lha, pemasukan dari ekspor kayu hilang donk ? Ada ide alternatif (menurutku agak egois sebenarnya, tapi daripada hutan dibakar?) dari Brazil, yaitu negara ini berjanji mempertahankan hutannya dengan imbalan uang. Hmm.. bukannya mempertahankan hutan itu kewajiban ya ? Kok malah dikomersiilkan ? Dunia .. dunia…Aku bangga pada Bahasa Indonesia. Ya, bahasa indonesia yg ribet, sulit, dan terkadang ndesa sehingga
malu untuk dipakai itu. Kenapa? Karena ternyata Bahasa Indonesia itu begitu kaya artikulasi sehingga kita tidak terlalu sulit mempelajari bahasa asing yg lain. Bandingkan dengan orang-orang bule yg mayoritas kesulitan melafalkan huruf ‘R’ dengan sempurna. Apalagi bangsa Jepang yang melafalkan ‘empat’ menjadi ‘umpat’ karena tak bisa mengucapkan ‘e’. Bangsa kita bahkan cukup mudah menguasai bahasa Jerman karena hobi meludah (nggak nyambuuuunnngggg… delete.. delete… Aku bangga pada Pemerintah Indonesia, karena meskipun lemot, korupsi, goblok, dll.. dsb.. pemerinta
h kita sudah bersusah payah mempertahankan daerah kekuasaan RI (Habibie era not included). Tidak mudah mempertahankan suatu kekuasaan, terutama dengan wilayah yg besar plus terpencar-pencar seperti Indonesia. Dan sangat tidak membantu jika kita cuma bisa menghujat pemerintah, atau bahkan malah menjual pulau ke negara lain.Aku bangga pada Bangsa Indonesia yg telah dengan gagah berani berjuang hidup dari tindasan ekonomi. Bangsa kita memang terpuruk, tapi paling tidak
bangsa kita masih berani terpuruk sendiri. Tidak seperti negara ‘penguasa’ yg takut jatuh sehingga melemparkan beban keterpurukannya pada negara-negara ketiga (termasuk Indonesia). Cuma, bodohnya … kok kita mau ya menerima beban itu ? Jangan tanya aku … aku juga tidak tahu.. beneran deh, suwer ewer ewer..Aku bangga pada Kekayaan Indonesia yg menyebabkan bangsa kita tidak pernah sepi dari ancaman ban
gsa lain yg ingin merebut kekayaan kita. Berabad-abad yg lalu, bangsa kita dijajah karena kekayaan alamnya. Saat ini pun, bangsa kita tak pernah lepas dari lirikan penjajah (dengan metode lain, tentu saja) masih karena kekayaan yg sama. Klaim batas wilayah ? tentu saja karena laut kita tempat hidup milyaran ikan. Tanah dan pulau ? Mereka tentu mencium bau minyak, intan, aspal, dll dsb di sana. Saking kayanya bangsa ini, kita jadi meremehkan kekayaan itu sendiri. Tidak menganggap hal itu sebagai kekayaan. Akibatnya, kita tidak peduli, karena bagi kita itu tidak kurang berharga. Bangsa ini perlu sadar akan kekayaannya, sehingga bisa peduli dan mau ikut mempertahankan kekayaan itu.Aku bangga pada Harga Diri Bangsa Indonesia. Kita memang ‘hobi’ membajak. Dulu membaja
k sawah, sekarang membajak film hahaha Aku bangga pada Tanah Air dan Ibu Pertiwi Indonesia. Bahkan tanpa 6 alasan di atas, aku tetap bangga pad
a Indonesia sebab dia lah rumahku, yg memberiku udara untuk bernafas, air untuk diminum, tanah untuk dipijak, hasil bumi untuk dimakan. Satu-satunya negara di mana aku bisa berkata “pulang”, tempat di mana keluarga dan handai taulanku berada. Jauh dari sempurna memang, tapi aku tidak ingin menukarnya dengan apa pun.
YEAH!!!
BalasHapusHIDUP INDONESIA!!!